Asal Muasal Pohon Kumis Kucing*

—–

Dulu, ada sebuah kerajaan yang amat makmur dan sentosa. Dia dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana dan baik hati. Sang raja senang membuat rakyatnya berbahagia. Senyum selalu mengembang di wajahnya. Jarang sekali sang raja nampak marah. Sikap sang raja membuat ia amat dicintai penduduk di kerajaan itu.

Sang raja amat menyukai kucing. Dia memelihara banyak kucing dengan berbagai jenis. Para kucing hidup senang di istana karena dirawat dengan penuh kasih sayang. Sang Raja juga membuat aturan untuk memperlakukan kucing dengan penuh cinta. Dia memberi hukuman untuk penduduk yang menyiksa atau menelantarkan kucing.

Suatu hari, sang raja jatuh sakit. Tubuhnya melemah sehingga setiap hari harus berbaring di tempat tidur. Nafsu makan sang raja berkurang. Senyum sang raja mulai hilang dari wajahnya. Dia pucat dan tubuhnya makin kurus. Beberapa tabib telah didatangkan untuk menyembuhkan, namun keadaan sang raja tak kunjung membaik.

Suatu hari, datanglah seorang Musafir ke kerajaan tersebut. Dia adalah ahli pengobatan yang berkeliling dari Timur ke Barat untuk menyembuhkan orangorang. Mendengar Sang Raja sedang sakit keras, dia datang ke istana untuk memeriksa.

Sang Musafir kemudian menyiapkan ramuan untuk mengobati Sang Raja. Salah satu bahan yang harus dimasukan ke dalam ramuan tersebut adalah kumis kucing yang tercabut dari akarnya.

Mendengar hal ini, kucingkucing pun pergi dari kerajaan. Kucingkucing peliharaaan sang raja pun menghilang dari istana. Mereka takut kumis mereka akan dicabut untuk dijadikan ramuan.

Penduduk kerajaaan juga tidak bisa mengabulkan permintaan Sang Musafir. Mereka dilarang untuk menyiksa kucing. Mencabut kumis kucing hingga akarnya bisa membunuh kucing. Tanpa kumis, kucing bisa kehilangan kemampuan bertahan hidup sehingga mati dengan perlahan.

Seekor kucing putih dekil tibatiba datang menemui Sang Musafir. Wajah sang kucing buruk sekali, tidak menggemaskan seperti kucingkucing lainnya. “Aku kucing liar yang buruk. Tidak ada seorang pun yang ingin memeliharaku di rumahnya. Namun, di kerajaan ini, aku tetap bisa hidup bahagia karena Sang Raja melarang penduduk menyiksa kami. Aku ingin berterima kasih pada Sang Raja dan memberikan kumisku sebagai obat untuknya.”

Usai dicabut kumisnya, hidup Si Kucing pun berubah. Jalannya sempoyongan dan sering jatuh. Ia tidak bisa melihat jelas di tempat yang gelap. Ia tidak bisa lagi mencari makan sendiri. Tubuhnya makin kurus dan akhirnya mati.

Beberapa minggu kemudian, Sang Raja sembuh. Dia pergi mencari Si Kucing yang telah menolongnya. Namun terlambat, si Kucing telah terkapar membusuk di tanah kosong di tengah hutan. Sang Raja menangis tersedu-sedu. Air matanya menetes di tubuh Si Kucing. Ia kemudian menggali tanah dan mengubur si Kucing di tanah kosong itu sambil tidak berhenti menangis.

Beberapa hari kemudian, di tanah tempat Si Kucing dikubur, tumbuh sebuah pohon. Batang pohon tersebut tegak dan basah. Kian hari, pohon tersebut membesar dan berbunga. Bunganya menyerupai kumis. Orangorang percaya bunga pohon tersebut adalah kumis si Kucing yang tumbuh lagi. Sementara batang basah pohon tersebut adalah air mata Sang Raja. Pohon tersebut kemudian disebut Kumis Kucing oleh penduduk kerajaan tersebut.

*) cerita ini hanya rekaan saya.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s