Percaya atau Tidak Percaya

Di awal memulai karir, secara tidak disengaja saya langsung memegang divisi kecil. Baru saja dua bulan saya diangkat menjadi karyawan tetap, setelah 1 bulan berstatus karyawan harian dan satu bulan percobaan, koordinator saya mengundurkan diri. Alihalih mencari koordinator baru, pihak manajemen meminta saya mencari satu orang lagi untuk membantu. Koordinasi diserahkan ke saya.

Meski tertantang, saya yang saat itu masih fresh graduate sedikit shock. Pasalnya, sistem di divisi saya waktu itu, masih berantakan. Tidak ada satu pun atasan saya yang punya background di bidang divisi yang saya tangani. Sementara ada beberapa hal manajerial dan teknis yang hanya dipahami orang-orang yang punya latar Ilmu Perpustakaan. Untungnya, pihak manajemen membebaskan saya membuat konsep dan mengizinkan saya melakukan studi ke lembaga lain.

Dari hasil studi banding, bertanya, dan membaca sanasini, saya mendapat gambaran mengenai sistem yang akan saya kembangkan di divisi saya. Namun, tetap saja ada rasa tak percaya diri dalam hati mengingat saya masih fresh graduate. Apakah yang saya kerjakan benar? Apakah tim yang saya punya bisa melakukannya? Apakah manajemen atau karyawan lain akan menganggapnya penting?

Di tengah kegamangan ini, seseorang dari pihak manajemen, dalam sebuah pelatihan tentang budaya perusahaan, mengatakan sesuatu yang membuat saya bisa berlari kencang setelahnya. Dia bilang, ide dan eksekusi belum cukup kuat untuk kita mencapai sesuatu. Ada satu hal lagi yang harus kita lakukan yaitu PERCAYA. Menurutnya, ide dan eksekusi, tanpa rasa PERCAYA tidak akan memberi pengaruh yang signifikan. Perkataan ini memberi spirit besar dan tak pernah saya lupakan sampai saat ini.

Setelahnya, saya menjadi lebih bersemangat menangani divisi yang saya pegang. Saya belajar membangun rasa PERCAYA dalam diri saya. PERCAYA bahwa ide yang saya punya adalah penting untuk perusahaan. PERCAYA bahwa konsep yang saya buat, dirancang dengan serius dan profesional. PERCAYA bahwa saya dan divisi saya, mampu mengekseskusinya dan berkontribusi untuk pengembangan perusahaan. Dan PERCAYA bahwa saya bisa memperbaiki halhal yang tidak berjalan dengan maksimal ke depannya. Rasa PERCAYA memberi amunisi besar dalam pekerjaan saya sehingga, meski masih fresh graduate, saya bisa melakukan perubahan yang cukup signifikan pada divisi saya selama hampir tiga tahun bekerja.

Setelahnya, saya bekerja di beberapa tempat. Saya mengalami berbagai gaya kepemimpinan dan mempraktikan berbagai gaya kepemimpinan juga. Mengalami dan mempraktikan gaya kepemimpinan adalah dua hal yang saling berhubungan. Interaksi dengan atasan dan bawahan akan mempengaruhi gaya kepemimpinan. Pemimpin di satu tempat, tidak bisa benarbenar menjadi dirinya. Apa yang dia miliki sebelumnya sebagai pemimpin akan bernegosiasi dengan halhal lain di lingkungan kerja. Karenanya, pada praktik kepemimpinan menumbuhkan rasa PERCAYA bukanlah perkara gampang. Pemimpin yang percaya diri belum tentu bisa menularkan rasa PERCAYA yang ia miliki ke bawahanbawahannya.

Dalam kajian manajemen pengetahuan, rasa PERCAYA termasuk sebagai pengetahuan tacit. Ia merupakan pengetahuan yang penting untuk memunculkan kreatifitas dan inovasi, namun sulit untuk ditransfer atau dikomunikasikan kepada orang lain. Pengetahuan tacit adalah pengetahuan yang bersifat personal, berada dalam pikiran manusia, dan pengembangannya dilakukan melalui pengalaman seharihari. Pengetahuan tacit bisa saja diubah ke dalam bentuk pengetahuan eksplisit, yang bisa dengan mudah disebarkan. Namun, karena prosesnya ada di dalam pikiran manusia, setiap orang akan menyerapnya dengan berbedabeda.

Sebagai pengetahuan tacit, rasa PERCAYA bukanlah hal yang bisa dilihat dengan kasat mata. Untuk dapat merasakannya, seseorang harus mengalaminya bersama si pemilik pengetahuan. Proses transfernya harus didukung dengan budaya perusahaan yang memiliki nilainilai yang sama. Menurut saya, gaya kepemimpinan seseorang juga harus sesuai dengan kultur perusahaan. Gaya kepemimpinan dan kultur perusahaaan yang tidak sejalan akan membuat proses transfer pengetahuan tacit menjadi mandek.

Kultur perusahaan sendiri pada dasarnya juga pengetahuan tacit. Untuk mentransfer nilainilai ini, perusahaan melakukan dua alih bentuk pengetahuan, yaitu dari tacit ke tacit (sosialisasi) dan tacit ke eksplisit (eksternalisasi). Dua alih bentuk tersebut tentu saja saling berhubungan dan mempengaruhi penerapan nilai. Semisal, untuk rasa PERCAYA yang saya ceritakan di atas. Kultur perusahaan tempat saya bekerja mengakomodir tumbuhnya nilai ini dalam diri saya. Para manajer memperlihatkan pentingnya divisi saya dengan memanfaatkan dan memberi feedback atas apa yang saya kerjakan. Hal ini juga diperkuat dengan struktur organisasi yang memudahkan komunikasi saya dengan top management dalam pengembangan. Seseorang  karyawan bisa saja memiliki cukup rasa PERCAYA ini. Dia PERCAYA bahwa kemampuan dan yang ia kerjakan adalah penting dan berkontribusi untuk perusahaan. Namun, apabila pola pikir manajemen, yang dieksplisitkan dalam struktur perusahaan, atau ditacitkan dalam perlakuan pemimpin perusahaan, memposisikan pekerjaannya berbeda dari yang ia bayangkan, maka nilai ini tidak akan tumbuh. Kultur perusahaan tidak mengakomodir nilainilai yang ia punya. Nilainilai yang ia punya tidak sejalan dengan kultur perusahaan.

Dari sini, saya melihat betapa pentingnya individu mengenal kultur perusahaan. Memilih pekerjaan atau bertahan di sebuah perusahaan, tidak melulu berkaitan dengan tawaran yang lebih baik. Buat saya, kultur perusahaan juga menjadi pertimbangan. Saya percaya bahwa setiap orang punya keinginan untuk bisa berdedikasi lama di sebuah perusahaan. Perusahaan pun mengharapkan karyawankaryawan yang loyal untuk mengembangkan organisasinya. Nilainilai individu dan nilainilai perusahaan yang sejalan akan membuat hubungan mutual. Keharmonisan nilainilai akan membuat seseorang bertahan karena kebutuhannya untuk berkembang terus terakomodir oleh tempatnya bekerja.

Advertisements

2 thoughts on “Percaya atau Tidak Percaya

  1. Betul banget, mas. Selain gaji, fasilitas, dan jenjang karir, kultur perusahaan juga sangat berpengaruh. Karena untuk masalah kultur, menurut saya, itu soal rasa dan kecocokan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s