Mazhab Paling Baik dalam Islam

Sewaktu SMA, gue dan beberapa teman cukup dekat dengan guru agama Islam. Mungkin karena Bapak Guru kami itu terhitung cukup muda dan open minded. Aktivitas gue sebagai ketua Rohis juga membuat hubungan saya dan Pak Zafari cukup intens. Beliau sering menyempatkan dudukduduk di mushola bersama kami seusai pulang sekolah.

Namun, di balik kedekatan tersebut sebenarnya ada desasdesus tentang Pak Zafari yang membuat kami seringkali membuat jarak dengannya. Kami yang mayoritas dibesarkan di lingkungan NU, mendengar kabar bahwa Beliau adalah lulusan IAIN Jakarta, yang dalam pengetahuan kami waktu itu, mayoritas menganut aliran Muhamadiyah. Sebenarnya tidak ada masalah dengan ke-Muhamadiyah-an tersebut. Hanya saja doktrin dari kecil bahwa Muhamadiyah adalah aliran lain, mengharuskan kami menjaga jarak dengan penganutnya. Tidak menghakiminya, tetapi mempersedikit intensitas berhubungan dengannya.

Suatu hari, Pak Zafari bilang bahwa ia ingin ke Pasar Lama di Kota. Dia hendak membeli beberapa tas dan alat tulis grosiran. Kami baru tahu kalau Beliau ternyata juga berdagang di rumahnya. Beliau cerita bagaimana serunya belanja di Pasar Lama dengan harga barang yang murahmurah. Entah mengapa mendengar cerita Beliau, kami jadi ingin ikut. Pak Zafari mengizinkan asal kami meminta izin orang tua dulu.

Kami berangkat menggunakan kereta. Pak Zafari membawa 6 siswa termasuk saya: 3 lakilaki, 3 perempuan. Di tengah perjalanan, Beliau bercerita tentang kegiatannya semasa kuliah. Tibatiba seorang teman perempuan saya bertanya,

“Pak, emang kalau kuliah di IAIN itu Muhamadiyah yah?”

“Loh, siapa bilang….,” jawab Pak Zafari.

“Orangorang di rumah saya bilang gitu, Pak.” Kata teman perempuan saya lagi seiring dengan anggukan mengiyakan dari kami semua.

“Anggapan orang saja itu. Di kampus banyak yang bukan Muhamadiyah juga…,” kata Pak Zafari.

Kemudian gue memberanikan diri bertanya, “Kalau Bapak, Muhamadiyah atau bukan?”.

“Bukan. Saya Islam,” jawab dia.

“Iya, Pak. Tapi Islam kan banyak alirannya tuh. Bapak apaan?”

“Yah, Bapak Islam,” Pak Zafari ketawa. “Lagian mazhab kali maksudnya, bukan aliran. Kalau Bapak Islam, gak pake mazhab.”

“Kenapa sih, Pak, agama kita banyak mazhabnya gitu?”

“Yah, karena Al Quran dan Hadist ditafsirkan berbedabeda. Itu wajar, tapi yang penting Rukun Islam dan Rukun Imannya sama. Nabi juga sudah memperkirakan kalau Islam bakal punya banyak mazhab. Yang kita kenal cuma 4 mazhab, tapi sebenernya ada puluhan mazhab. Tapi Muhamadiyah itu organisasi bukan mazhab.”

“Terus kita mending milih ikut mazhab mana, Pak?”

“Nggak usah milih. Setiap mazhab telah melalui tafsir ahlinya. Jadi, kamu ambil saja ajaran dari mazhab yang menurutmu paling baik.”

Semenjak itu, jarak yang kadang kami buat dengan Pak Zafari runtuh. Dan semenjak itu, gue belajar untuk tidak melihat mazhab atau pengelompokan dalam Islam sebagai hal yang penting untuk diperdebatkan, apalagi jadi bahan untuk bermusuhan.

mazhab

sumber: http://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com/2013/05/empat-madzhab.html

Advertisements

2 thoughts on “Mazhab Paling Baik dalam Islam

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s