Jika Saya Tidak Menambahkan Kamu Sebagai Teman di Path

Tulisan ini saya tujukan untuk temanteman yang telah mengirimkan request untuk menjadi teman saya di Path. Atau kamukamu yang baru ingin meng-invite saya menjadi temanmu di Path. Atau kamukamu yang ingin tahu apakah saya punya akun Path atau tidak. Semoga dengan membaca tulisan ini, hubungan kita masih tetap akan baik tanpa terkoneksi di Path.

Sebelumnya, saya ingin menceritakan dulu kepada temanteman tentang bagaimana saya bisa memiliki akun Path. Setelah sekitar 2 tahun menjadi trend, saya baru memiliki akun Path pada bulan Agustus 2014. Itupun melalui pertimbangan yang panjang. Sampai dua bulan menggunakan, saya belum meng-add seorang temanpun di Path. Awalnya, saya mengunakan Path memang untuk mencurahkan kegalauan, yang rasanya tidak pantas lagi saya keluarkan di Twitter atau FB, mengingat umur 😀

path-app

Saya adalah satu dari beberapa orang yang menganggap ide Path sebagai sebuah platform media sosial sangat patut ditertawakan. Alasan pertama, Path mengklaim dirinya sebagai media sosial untuk teman dekat dan keluarga yang awalnya dibatasi hingga 200 teman. Membatasi jejaring di sebuah platform media sosial tentunya akan merugikan platform itu sendiri dari segi bisnis. Mau tidak mau, jumlah pengguna adalah modal bisnis utama dari platform media sosial. Membatasi jumlah jejaring dari setiap pengguna, akan menghambat pengembangan bisnis platform itu sendiri. Ternyata benar saja, semenjak sahamnya dibeli Bakrie, Path menambahkan jumlah teman untuk setiap orang menjadi 500, bukan tidak mungkin akan bertambah di tahuntahun berikutnya.

Alasan kedua adalah Path menyediakan fasilitas untuk menyebarkan konten yang penggunanya unggah ke Facebook dan Twitter. Ini artinya, meskipun secara prinsip Path dikhususkan untuk keluarga dan teman dekat, namun konten Path bisa diintip siapa saja di seluruh dunia. Lalu, apa gunanya membatasi jejaring pertemanan apabila seluruh dunia harus tahu apa yang kita unggah di Path. Belum lagi, akibat fasilitas ini, mendadak timeline Twitter dan Facebook menjadi penuh sampah Path. Sampai saat ini, saya masih belum paham motif para pengguna Path yang secara otomatis menyebarkannya statusnya di Path.

Alasan ketiga adalah Path telah gagal menjadi sebuah akun media sosial untuk orangorang dekat. Entah yang salah platformnya atau penggunanya, dengan konsep keluarga dan teman dekat, seharusnya setiap orang bisa lebih menjadi diri sendiri di Path. Bisa mengunggah apapun baik positif maupun negatif tanpa takut yang diunggahnya tersebar atau dikecam. Nyatanya, banyak gosip tersebar bersumber pada screenshoot Path orang. Bahkan seorang pengguna Path di Yogya dikejam se-Indonesia dan ditahan akibat status negatifnya di Path. Padahal kalau melihat konsep pertemanan Path, kedua hal tersebut seharusnya tidak terjadi mengingat teman di Path adalah keluarga dan teman dekat kita, yang seyogyanya bisa memaklumi dan tidak ingin kita mengalami hal buruk.

Lalu mengapa saya akhirnya menggunakan Path?

Temanteman sekalian. Sebelum Path muncul, saya sangat aktif di Facebook dan Twitter. Saya pernah menjadi sangat pamer di Facebook. Saya juga pernah sangat caper di Twitter. Awalnya, pamer dan caper bukanlah persoalan di kedua platform tersebut. Toh, memang begitulah cara pertemanan di kedua media sosial itu bekerja. Namun, semua berubah ketika pengguna kedua platform tersebut bertambah. Tibatiba, ada aturanaturan dari para pengguna sendiri yang membatasi apa yang harus disampaikan pengguna lainnya. Cintacintaan melulu lah, muak galau lah, harus berbobotlah.

Tibatiba saja, halhal yang patut disampaikan di Twitter dan Facebook menjadi terbatas. Jejaring pertemanan yang semakin banyak juga membuat kita berpikir dua kali ketika memposting sesuatu di kedua platform tersebut. Kita tidak bisa membatasi respon dari orang yang melihat status kita, hingga terkadang responnya di luar dugaan. Itu sangat menganggu sekali, sebab terkadang kita memang cuma ingin mengeluarkan unekunek saja.

Tapi, zaman memang sudah berubah…

Maka, saya pun menggunakan Path. Di saat itu, saya hanya butuh tempat saya menyampaikan unekunek, baik negatif maupun positif. Pikiran yang saya ingin keluarkan tanpa takut dijudge, yang kemudian hari saya bisa melihatnya lagi dan menertawakannya. Hal itu sudah tidak bisa saya lakukan lagi di Twitter dan Facebook.

Dua bulan menggunakan, saya terpikir untuk mulai mengundang temanteman dekat saya. Mereka yang saya percaya tidak akan menjudge untuk hal apapun yang saya unggah di Path. Kebetulan juga, beberapa tahun ini mendadak temanteman dekat saya banyak yang pindah ke luar kota. Ada yang di Yogya, di Lampung, di Bandung, di Cirebon. Mendadak interaksi saya dengan mereka menjadi sangat tidak intens, baik melalui media sosial maupun pertemuan langsung. Path memberi saya solusi untuk hal itu. Teman saya, yang di luar kota sana, tentu punya kerjaan dan tidak setiap saya-sedang-galau mereka dalam kondisi siap di telepon atau chatt. Dengan melemparnya di Path, mereka akan tahu kondisi kita walaupun mungkin bisa jadi telat melihatnya. Saya pun memutuskan menggunakan Path memang untuk temanteman terdekat saya dan mulai mengundangnya satu persatu.

Namun, meski menggunakan nama lain, ternyata banyak juga temanteman saya yang tahu bahwa saya memiliki Path dan mengundang saya menjadi temannya. Awalnya, saya sempat dilema. Kalau menerima undangan pertemanan tersebut, maka Path saya akan menjadi terbatas seperti Twitter dan Facebook. Kalau tidak menerimanya, mereka akan menganggap saya orang yang sombong dan pilihpilih teman.

Saya memilih untuk jujur. Jujur bahwa sebagai manusia, saya tidak mungkin dekat dengan semua orang, apalagi yang baru dikenal di internet. Jujur bahwa tidak semua orang bisa memahami apa yang sesungguhnya kita sampaikan. Jujur bahwa kedekatan bukanlah sesuatu yang bisa langsung muncul dengan menekan tombol menerima pertemanan di Path. Banyak undangan pertemanan yang akhirnya saya diamkan. Saya memilih untuk menjadi orang yang mengirimkan undangan pertemanan apabila saya menganggap orang tersebut sudah bisa menjadi teman Path saya.

Sampai saat ini, teman Path saya hanya 15 orang. Mereka saya anggap orangorang yang sudah tahu bagaimana merespon saya dan saya sudah bisa memprediksi responrespon mereka. Karena saya juga sudah tahu mereka dan lingkaran pertemanannya, biasanya saya juga bisa langsung tahu siapa yang memberitahu apabila ada teman-yang-tidak-berteman dengan saya di Path menanyakan sesuatu yang hanya saya sampaikan di Path. Gosip tentang diri saya mudah diinvestigasi sumbernya 😀

Saya menggunakan Path untuk halhal personal, kadang bahkan sangat personal. Saya tidak ingin temanteman, karena belum memahami saya,  gagal paham dan beropini macammacam di belakang saya. Saya tidak ingin status positif saya dianggap sebagai pamer. Saya tidak mau hal negatif atau gelap yang kadang saya unggah membuat mereka takut pada saya. Saya tidak ingin temanteman baru mengenal saya ketika di Path.

Lepas dari itu semua, kita akan tetap menjadi teman meski tidak terkoneksi di Path. Saya berterima kasih atas undangan pertemanan Path yang telah dikirimkan. Semoga kita bisa saling menghargai zona personal masingmasing tanpa menimbulkan rasa ketidakenakan di hati masingmasing.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s